Hallo Pemustaka…! Masih ingatkah kegiatan Pustakalana Parents Club bulan November lalu?  Tepat tanggal 16 November 2018 lalu, Pustakalana mengadakan sharing session bertajuk Introduction To Conscious Living bersama Astri Puji Lestari, atau yang lebih sering disapa Atit @atiit. Dari kegiatan tersebut, kami menyadari ternyata masih banyak sekali ya yang bisa digali dari pola hidup berkesadaran. 

Karena itulah akhirnya di tahun 2019 ini Pustakalana Parents Club berkolaborasi bersama Generasi (Lo.Ka.Si) mengadakan Conscious Living Class sebagai kelanjutan dari sharing session sebelumnya. Tak tanggung-tanggung, kelas akan dilaksanakan 3 kali, lho!  Kelas pertama dengan tema Physical Decluttering for Happier Home sudah dilaksanakan tanggal 8 Februari lalu.  Apa saja ya yang dibahas?

Clutter dan Decluttering

Menurut Peter Walsh, istilah clutter itu bukan sekedar barang-barang yang berantakan di lantai. Lebih dari itu, clutter adalah segala sesuatu yang menjadi penghalang antara dirimu dan kehidupan yang ingin kamu jalani.

Clutter bisa ada dalam beberapa bentuk, apakah itu berwujud barang fisik, berupa emosi negatif yang dirasakan, arsip-arsip digital yang berantakan, atau mental dan spiritual block. Jadi decluttering bisa diartikan sebagai segala upaya yang dilakukan untuk menyingkirkan penghalang-penghalang tersebut. 

Why Decluttering?

Atit menceritakan pengalamannya ketika pertama kali harus pindah ke Jakarta dan tinggal di apartemen kecil. Selama ini, Atit hidup di rumah orang tuanya yang sangat luas dan banyak sekali barang. Terkadang Atit membeli barang-barang  sama yang sudah ia miliki, karena tidak sadar kalau sudah memiliki barang tersebut di rumah. 

Acara ini dipandu (MC dan Moderator) dengan sangat apik dan penuh canda tawa oleh Anggia Bonyta

Jadi ketika Atit harus pindah ke Jakarta dengan tempat  tinggal yang tidak lebih besar dari kamar mandi di rumahnya, Atit menyadari kalau barang-barang miliknya sudah terlalu banyak dan semua itu membuat ia stress/tertekan.  Saat itulah Atit mulai mempertanyakan kembali apa saja yang sebetulnya benar-benar ia butuhkan. Momen tersebut juga menjadi awal mula Atit untuk mulai menjalani hidup yang lebih berkesadaran.

Physical Decluttering for Happier Home 

Dari proses belajarnya tentang decluttering, Atit menyimpulkan ada 4 macam barang yang tergolong ke dalam physical decluttering, yaitu:

  • Barang-barang yang sudah ketinggalan zaman, rusak, atau sudah lama tidak dipakai.
  • Barang-barang yang berada tidak pada tempatnya
  • Barang-barang yang tidak penting atau tidak memiliki daya guna
  • Barang-barang milik orang lain

Atit juga memperkenalkan beberapa metode decluttering yang umum digunakan di antaranya :

  • Konmari Method – dimulai dari mengelompokkann barang-barang mana yang spark joy (membawa kesenangan/kebahagiaan)
  • Four Box Method – mengelompokkan barang-barang ke dalam empat kotak (atau lebih) dengan kategori disimpan, diperbaiki, dijual, dibuang, didonasikan, dll.
  • Minimalist Game – menyingkirkan satu hari satu barang. Biasanya ini dilakukan oleh orang-orang yang aktif di media sosial. Dengan mengikuti game ini dan mengeksposnya di media sosial, akan ada motivasi tambahan karena tahu bahwa ia melakukan ini tidak sendirian (meskipun metode ini cukup sulit juga untuk sebagian orang).
  • Packing Party – berandai-andai akan pindah ke rumah baru dan hanya memiliki satu hari untuk mengepak barang-barang. Jadi, barang apa saja yang akan dibawa? Tentunya hanya barang-barang yang benar-benar penting yang akan dibawa.
Four-box Method – Sumber foto: Livingloving.net

Setelah mengelompokan barang-barang mana saja yang akan di-declutter, timbul pertanyaan lain yang menjadi sumber keresahan. Kemanakah barang-barang tersebut harus dibuang? Kita tahu sendiri bahwa TPA-TPA khususnya di sekitaran Bandung dan Jakarta sudah penuh. Ketika kita memilih untuk mendonasikan barang, kadang tidak semuanya terpakai dan ujung-ujungnya berakhir di TPA juga. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Atiit memberikan beberapa rekomendasi tempat yang bersedia menampung sampah-sampah atau perabot yang sudah tak lagi terpakai di area Bandung:

  • Untuk sampah-sampah plastik, kertas, kemasan, kaleng, botol kaca, dll: @waste4chang (IG), Bank Sampah Bumi Inspirasi, Bank Sampah Hijau Lestari;
  • Untuk furniture yang sudah tidak terpakai: @ikea.id (IG), pedagang-pedagang furniture di Jl. Malabar dan Jl. Lengkong;
  • Untuk sampah-sampah elektronik: @ewasterj (IG), pedagang elektronik bekasi di Jl. Jatayu;
  • Untuk sampah-sampah makanan: @brotherfood (IG), @gifood (IG);
  • Untuk pakaian dalam bekas: beberapa animal shelter di Jakarta (untuk dibuat selimut/bantal hewan);
  • Untuk baju-baju bekas: Gemilang Indonesia, Aksi Cepat Tanggap, threadapeutic, sadarisedari;
  • Untuk buku dan majalah bekas: lemaribukubuku, kantor pos Asia Afrika;
  • Untuk pernak-pernik yang sudah tidak terpakai: Pasar Jatayu, Astana Anyar, Babe.

Menurut cerita Atit, decluttering yang sudah ia lakukan membawa banyak perubahan. Dengan decluttering, ia merasa jadi lebih mengenal dirinya sendiri dan lebih thoughtful. Selain itu, ruang untuk berkegiatan lebih leluasa, dan Atit punya banyak waktu untuk melakukan banyak hal karena semakin sedikit barang yang ia miliki, semakin sedikit pula ia perlu meluangkan waktu dan tenaga untuk beres-beres. 

Sesi terakhir ditutup dengan tanya jawab bersama peserta lainnya, namun sebelum itu ada sedikit perkenalan dari Keranjang Segar. Keranjang Segar merupakan distributor produk-produk pasar tradisional yang didirikan karena kepedulian pendirinya pada pasar. Beliau menyadari bahwa hasil bumi Indonesia yang dipasarkan di pasar-pasar tradisional itu sangat kaya dan beraneka ragam. Sayangnya, banyak faktor yang membuat para konsumen tidak berbelanja di pasar seperti jarak yang jauh, fasilitas kurang nyaman (kotor/becek), dan alasan-alasan lainnya. Karena itulah Keranjang Segar hadir agar para konsumen bisa tetap belanja di pasar tanpa harus pergi ke pasar. 

Kumiw dari Keranjang Segar bercerita tentang visi misi Keranjang Segar

Selain menjual produk-produk pasar, Keranjang Segar juga menjual produce bag sebagai pengganti kantong plastik untuk berbelanja. Kenapa harus produce bag? Menjalani conscious living berarti juga memutuskan secara sadar barang apa yang akan dipakai dan apa dampaknya terhadap kita sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Ketika kita mengganti penggunaan kantong plastik dengan produce bag berarti kita juga sudah berkontribusi untuk mengurangi sampah plastik (less-waste) yang berbahaya untuk lingkungan. 

Terima kasih untuk semua peserta yang telah hadir…!

Bulan depan, kelas conscious living selanjutnya akan membahas tentang less-waste. Apa saja sih yang bisa kita lakukan untuk mencapai hidup less-waste

Segera daftar untuk kelas selanjutnya di bit.ly/kelasconsciousliving


Teks: Anggita Rizqi

Editor: Puti Ceniza

Foto: Puti Ceniza dan Raisa H.

Advertisements

3 thoughts on “Conscious Living Vol.1 : Physical Decluttering For Happier Home

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s