Di awal tahun 2019 ini, Pustakalana mengadakan sharing session bersama Astri Puji Lestari, atau yang lebih sering disapa Atit @atiit. Dengan berbagai tema yang berkesinambungan, Atit mengangkat tajuk Introduction To Conscious Living yang dibagi menjadi tiga bagian. Volume 1 yang mengambil tema Decluttering – Organizing – Cleaning telah dilaksanakan pada tanggal 8 Februari 2019 yang lalu. Dan di bulan Maret ini, tepatnya tanggal 8 Maret 2019, dilaksanakan volume 2 yang bertajuk Less Waste, yang tentu saja, sangat bersinergi dengan bahasan di volume 1 di bulan yang lalu. Dari sharing session minggu ini, semakin jelas bahwa kita sebagai manusia sudah seharusnya hidup berkesadaran dan berkelanjutan dengan lingkungan yang merupakan rumah kita sendiri.

WhatsApp Image 2019-03-18 at 13.01.31-2
Atiit menjelaskan tentang kondisi Bantar Gebang
WhatsApp Image 2019-03-18 at 13.01.31
Modetor dan MC: Anggia Bonyta

Sesi dimulai dengan perkenalan singkat dari Warung 1000 Kebun tentang local producer empowerment. Warung 1000 Kebun merupakan sebuah warung yang menjual produk lokal yang ramah lingkungan di daerah Bandung Timur.

DSCF7179.JPG

Warung yang dimulai dari Komunitas 1000 Kebun ini memiliki misi mengaplikasikan konsep zero waste dalam kegiatan operasionalnya. Dan dari pengenalan singkat yang dipresentasikan oleh Mas Galih dan Mbak Vania, mereka menyampaikan keinginan besar untuk bisa mempermudah akses masyarakat memiliki gaya hidup yang berkelanjutan dan berkesadaran dengan menyediakan berbagai sumber produksi lokal yang lebih murah, sehat dan ramah lingkungan. Hal ini akan sangat berhubungan erat dengan tema Less Waste yang kemudian dibahas dalam sharing session bersama Atit.

OUR WASTE

Sesi berikutnya dibuka oleh Atit dengan membahas tentang pengalamannya berkunjung ke Tempat Pembuangan Sampah Bantar Gebang di Jakarta. Dalam presentasinya, Atit membuat grafik-grafik yang membeberkan tentang jumlah sampah di Bantar Gebang hasil dari berbincang dengan Dinas terkait. Menurut Atit, dalam setiap harinya ada 1200-1400 mobil truk sampah yang bolak balik ke Bantar Gebang untuk mengantarkan sampah-sampah dari seluruh penjuru Kota Jakarta. Dan sekitar 7.200 ton sampah per harinya masuk ke Bantar Gebang. Jika dihitung secara rata-rata, standarnya setiap orang di Jakarta menghasilkan 0,5-0,7 kg sampah per hari. Bayangkan, apabila dijumlahkan setiap dua hari, jumlah sampah yang berakhir di Bantar Gebang itu setara dengan besarnya Candi Borobudur! Diperkirakan Bantar Gebang akan mencapai batas maksimalnya dalam 5 tahun mendatang, dan Pemerintah Jakarta harus mempersiapkan lahan baru untuk membuang sampah di masa depan.

image4
Sumber: Presentasi Atiit

Dengan berbagai fakta yang sangat mengagetkan itu, sudah sepantasnya kita sebagai penghasil sampah tersebut berkontribusi juga untuk lebih memperhatikan langkah-langkah apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi produksi sampah. Atit sendiri sudah tertarik dengan sustainable living semenjak tahun 2009, dan telah mulai menerapkan berbagai cara hidup minim sampah  terutama setelah pindah ke Jakarta sekitar 5-6 tahun lalu.

WASTE SORTING & CATEGORIES

Atit kemudian menjelaskan tentang jenis-jenis sampah dan pengkategorian sampah di dalam rumahnya. Secara garis besar, sampah dibagi ke dalam dua jenis yaitu organik dan anorganik.

Untuk sampah anorganik Atit telah memilah sampah dengan menggunakan beberapa kotak sampah yang berbeda dan sampah akan dipilah sesuai kategorinya untuk dimasukkan ke dalam kotak yang berbeda-beda tersebut.

image5
Beberapa kotak untuk memilah sampah
Sumber: instagram @atiit

Kemudian setiap beberapa waktu secara berkala Atit akan memilah sampah yang telah dikumpulkan untuk kemudian diberikan kepada Bank Sampah atau berbagai tempat penyaluran sampah sesuai dengan kategori masing-masing.

image2

Sementara untuk sampah organik, Atit bercerita tentang komposter. Yaitu sebuah alat untuk mengubah sampah organik menjadi kompos yang dapat digunakan menjadi pupuk. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian sampah organik.

SAMPAH ANORGANIK

Sampah anorganik atau sampah bukan organik dibagi ke dalam dua kategori, yaitu sampah yang dapat dikelola (recycleable) dan sampah yang tidak bisa dikelola lagi (residu)

Sampah yang dapat dikelola (recycleable), antara lain:

  1. Plastik
  2. Gelas/Kaca
  3. Karet
  4. Kertas
  5. Logam
  6. Dsb

Sementara sampah yang tidak dapat dikelola (residu), yaitu:

  • Cotton Bud
  1. Sachet (termasuk semua plastik kemasan kecil dan besar yang mengandung minyak dan zat lain)
  2. Diaper dan pembalut
  3. Kain polyester dan sintetis lainnya
  4. Batok kelapa, kulit durian
  5. Tissue, tissue basah, dan kapas

Selain itu ada juga sampah-sampah lainnya yang masuk ke dalam berbagai kategori khusus seperti sampah medis, sampah elektronik, dan berbagai sampah beracun (hazardous and toxic waste yang terkandung B3 – Bahan Beracun dan Berbahaya). Untuk lebih jelasnya dapat juga dilihat di bagan di bawah ini yang diambil dari situs resmi Waste 4 Change.

image8

SAMPAH ORGANIK

Termasuk di dalamnya adalah food waste (sampah makanan ),  kulit buah dan potongan sayur, daun kering, dan sebagainya. Kategori sampah organik inilah yang cukup mendapat sorotan dalam sharing session ini.

Menurut Atit, penghasil sampah nomor satu saat ini ialah dari dapur, dan itu berupa food waste atau sampah konsumsi hasil konsumen yang artinya sampah tersebut sudah melalui suatu proses (contoh: sisa masakan matang, sisa potongan sayur dan kulit buah yang tidak dimakan,serta sisa konsumsi camilan dan berbagai macam makanan olahan).

Sementara itu, ada juga yang disebut food loss, yaitu sampah makanan yang dihasilkan dari produsen (petani, pekebun) sebelum sampai ke konsumen.

 

Untuk hal ini, kemudian menjadi bahasan yang dihubungkan dengan Warung 1000 Kebun selaku produsen. Warung 1000 Kebun menjelaskan sistem komposter yang dimiliki,  yaitu berupa keyhole di area warungnya, dan juga menyiasati berbagai sisa sampah buah dan sayuran yang masih layak dengan mengolahnya kembali menjadi masakan yang layak dikonsumsi.

Bagan Keyhole di Warung 1000 Kebun

image1-2
Sumber: http://www.engledow.com

Atit pun menceritakan pengalamannya tentang komposter yang dimilikinya di rumah. Ia memiliki 3 jenis komposter, antara lain:

  1. Komposter kecil, berbentuk seperti ember dan tertutup, untuk diletakkan dalam dapur di dalam rumahnya. Diisi potongan sayur dan kulit buah
  2. Komposter besar, berbentuk seperti ember dengan ukuran lebih besar dan tertutup, diletakkan di luar rumah (teras). Diisi dengan berbagai daun kering, sampah kebun, dan sampah sayur buah dengan skala lebih besar
  3. Komposter pot, atau komposter berupa pot kotak/bulat, terbuka, dan diisi tanah. Dapat diletakkan di halaman dan bisa dipakai untuk membuang sisa-sisa makanan (yang belum diproses dan bukan hewani) atau untuk cangkang telur

Sementara untuk sisa masakan yang telah diolah ataupun sampah hewani seperti tulang ikan/ayam, dapat menggunakan lubang biopori sebagai solusi lainnya.

image9

START YOUR JOURNEY

Setelah menjelaskan tentang pemilahan dan pengolahan sampah, Atit pun bercerita mengenai berbagai tips dan trik untuk menyiasati berbagai hal yang sekiranya masih bisa dihindari untuk mengurangi sampah. Tips yang paling sederhana adalah : DON’T JUDGE YOURSELF. Yang dimaksud, kita tidak perlu terlalu terbebani dengan segala keharusan menghilangkan sampah, lakukan semaksimal mungkin, namun tetap sesuai kemampuan diri kita sendiri.

Atit pun memberi masukan beberapa barang/bahan pengganti yang bisa kita sediakan untuk mengurangi sampah sehari-hari. Beberapa contohnya antara lain,:

Dapur :

  • Sebagai pengganti sponge cuci piring, kita dapat menggunakan loofah atau gambas yang bisa didapatkan di pasar tradisional.
  • Sebagai pengganti tissue dapur (kitchen towel) yang bersifat sekali buang, kita dapat menggunakan lap kain yang bisa dicuci kembali.

Kamar Mandi:

  • Sebagai pengganti tissue toilet, kita bisa menggunakan handuk kecil yang secara berkala diganti.
  • Sebagai pengganti pembalut untuk wanita, kita dapat menggunakan menstrual pads yang terbuat dari kain, atau menstrual cup.

Keperluan bepergian:

  • Sebagai pengganti kresek/plastik pembungkus, kita dapat menggunakan produce bag atau tas berbahan kain
  • Sebagai pengganti Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) kita dapat menggunakan botol minum sendiri/ tumblr
  • Sebagai pengganti tissue kita dapat menggunakan saputangan

image6

NEEDS and WANTS

“Life meant to be lived, not survive”

Menurut Atit, dengan hidup berkesadaran untuk meminimalisasi sampah yang kita hasilkan akan menuntun kita untuk lebih mengenali diri kita sendiri. Dari hal ini kita akhirnya akan bisa membedakan mana hal yang MEMANG kita butuhkan dan mana hal yang HANYA kita inginkan.

Atit menuliskan 4 hal yang kita butuhkan untuk hidup:

  1. Rumah
  2. Makanan dan air
  3. Kesehatan
  4. Pakaian

Dan untuk menghindari konsumsi yang tidak perlu, kita bisa menggunakan 6R sebagai prinsip hidup, yaitu:

RETHINK what you consume. Pikirkan dan rencanakan baik-baik apapun yang akan kita beli dan konsumsi, sesuaikan dengan kebutuhan dan bukan keinginan.

REFUSE what I don’t need. Menolak apapun yang sekiranya tidak diperlukan untuk dikonsumsi.

REDUCE what I want. Kurangi keinginan berlebih dan yang tidak perlu.

REUSE anything I can. Manfaatkan kembali apapun benda yang TELAH kita punya dan masih bisa digunakan tanpa harus membeli yang baru.

RECYCLE my waste. Daur guna- daur ulang – daur hidupkan kembali semua sampah yang sekiranya masih bisa kita manfaatkan.

REPLANT/ REROT my organic waste. Maksimalkan semua sampah organik kita untuk bisa dikembalikan ke tanah.

image3

Di akhir sesi, tidak ketinggalan Atit memberi demo untuk membuat sendiri cloth wipes sebagai pengganti tissue basah di rumah. Dengan menggunakan potongan kain dari kaos bekas yang direndam cairan cuka dan campuran essential oils, kita bisa membuat lap basah yang steril hasil karya sendiri.

WhatsApp Image 2019-03-18 at 13.01.28-2
Menggunakan essential oils dari Botanina (calm and focus, mood and mind) dan BioNOils tea tree, peppermint, lavender, lemon.

Sebagai kesimpulan Atit juga menjelaskan tentang perbedaan ecosystem dan egosystem. Bahwa kita sebagai manusia yang ada di dalam ekosistem semesta, jangan sampai tertukar dengan egosystem yang hanya berkisar dalam pikiran kita saja. Jangan buat diri kita sendiri merasa stress dan tertekan dengan segala kerusakan di alam ini, tapi kita juga harus berpikir untuk diri sendiri seberapa mampu kita untuk mengusahakan semaksimal mungkin apa yang kita bisa. Tidak perlu merasa harus langsung berhasil ke skala besar, tapi dimaksimalkan dalam skala kecil akan lebih baik dan efektif.  

“ I’m not doing this because I’m an eco warrior, but because its make sense and feels good”

-Astri Puji Lestari

Dengan hidup berkesadaran seperti itu, Atit merasakan banyak keuntungan yang sudah dirasakannya. Ia merasa lebih aware dan thoughtful, sehingga bisa mengurangi berbagai konsumsi yang tidak diperlukan. Kita juga diharapkan lebih bisa mengenali diri kita sendiri dan merasa berbahagia ketika kita tahu kita bisa melakukan hal yang baik untuk bumi ini

WhatsApp Image 2019-03-18 at 13.01.29
Terima kasih untuk Boenkus yang sudah menyediakan doorprize untuk peserta

46731843_581262292316540_8485847982186049212_n.jpg

WhatsApp Image 2019-03-18 at 13.14.26
Terima kasih untuk semua peserta, see you next month!

Teks: Citrarini Ceria Chandraningtyas

Advertisements

One thought on “Conscious Living Vol.2 : Less Waste

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s