Halo Pemustakalana! Kembali lagi di sesi #KilasBalikPustakalana. Siapa yang masih ingat dengan kisah Pustakalana di tahun 2005 lalu? Kisah berdirinya Pustakalana dan Ruang Terbuka memang sangat menginspirasi ya? Namun, memang di tahun 2006 Pustakalana terpaksa berhenti aktif karena satu dan lain hal. 

Setelah beberapa tahun tidak beroperasi, di tahun 2015 muncul lah semangat dan harapan baru, Kak Chica menggerakkan Pustakalana untuk kembali hadir dengan brand Pustakalana Children’s Library dan terus beroperasi sampai saat ini untuk para Pemustakalana sekalian. 

Hadirnya Pustakalana di tahun 2015 tentu tidak lepas dari dukungan pihak-pihak yang juga mencintai Pustakalana. Salah satunya yaitu Ibu Widy. Ibu Widy yang saat ini berada di Amerika Serikat (US) telah  mendampingi Pustakalana sejak awal beroperasi loh, Pemustakalana. 

Pada bincang kami bersama Ibu Widy, beliau sempat bercerita bahwa ia sudah menjadi volunteer sejak 2016 dan setelahnya lebih aktif terlibat sebagai koordinator Pustakalana Children’s Library.  Bahkan Ibu Widy sempat ikut membantu dan melengkapi SOP harian perpustakaan (yang tentu setelah itu pun selalu mengalami penyempurnaan seiring dengan perkembangan kebutuhan Pustakalana). 

Saat itu Ibu Widy tentu tidak sendirian, beliau juga bekerjasama dengan tim Pustakalana lainnya, diantaranya Kak Cika dan Kak Urfa. Hayoo, pada sudah kenal kan dengan Kak Cika dan Kak Urfa? Bersama-sama dengan Tim Perpustakaan, Ibu Widy dan tim pelan-pelan memulai transisi ke sistem katalog koleksi online. Namun sayangnya,  sebelum proses itu sepenuhnya selesai, keterlibatan Ibu Widy sebagai Koordinator Perpustakaan harus terhenti di pertengahan tahun 2017 karena beliau harus melanjutkan studi S3 ke Amerika Serikat (Bu Widi sangat hebat ya…!). Untuk yang penasaran, berikut adalah potret dari Ibu Widy. 

KEHIDUPAN DI AMERIKA SERIKAT

Pada bincang kami, Ibu Widy juga membagikan ceritanya selama tinggal di Amerika Serikat. Saat ini Ibu Widy sedang sibuk untuk menyelesaikan riset dan tulisan disertasinya. Karena adanya pandemi yang berdampak pada adanya arahan untuk bekerja di rumah, Ibu Widy juga sering mengikuti seminar atau workshop online untuk menambah wawasan beliau. Topik webinar yang biasanya dipilih oleh Ibu Widy adalah topik seputar kegiatan riset beliau atau tentang riset dan penulisan akademik secara umum.

Lalu selain belajar dan menambah pengetahuan, apa ya yang dilakukan Ibu Widy di waktu senggang? Nah, sebagai penyeimbang kegiatan agar tidak sumpek dan stres, Ibu Widy juga sering melakukan kegiatan outdoor. Dalam beberapa bulan terakhir Ibu Widy menyempatkan untuk melakukan ekplorasi taman kota, area konservasi, atau nature trails di kota tempat tinggal Ibu Widy di Amerika Serikat. 

Biasanya sekali waktu setiap satu atau dua minggu beliau mengunjungi satu taman atau trails dan berjalan kaki di sana. Di hari-hari Minggu Ibu Widy juga kerap terlibat kegiatan volunteer di kebun kampus, mulai dari menyiapkan lahan untuk ditanam, menebar bibit, mencabuti tanaman liar, hingga panen hasil kebun. Selain itu, sehari-hari Ibu Widy selalu sempatkan untuk jalan kaki di sekitar kompleks apartemen supaya badan cukup bergerak dan terkena matahari, tentu ini penting untuk menjaga kesehatan, terutama di tengah ancaman COVID-19. Selain baik untuk kesehatan, aktifitas Ibu Widy tentu sangat menyenangkan, apalagi bisa memetik hasil panen langsung di kebunnya.  

BAGAIMANA YA PERPUSTAKAAN DI AMERIKA SERIKAT? 

Sebelum adanya Pandemi Covid-19, Ibu Widi menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan-perpustakaan kampus. Dan menurut Ibu Widy, ada beberapa hal yang sangat dikabumi dari perpustakaan yang dikunjungi oleh beluai yaitu kelengkapan koleksi serta ketersediaan ‘ruang baca’ atau ‘ruang belajar’ dan alat-alat penunjang aktivitas yang cukup beragam.

“..Sebagai contoh, perpustakaan-perpustakaan kampus dilengkapi oleh ruang baca atau ruang belajar dengan kapasitas cukup besar yang tersebar di setiap lantai. Ada lantai khusus ruang baca atau ruang belajar tenang di mana pengunjung tidak diperbolehkan untuk ribut sedikitpun, namun ada juga ruang baca atau ruang belajar yang lebih santai di mana pengunjung boleh sedikit ‘ribut’, biasanya merupakan ruang kerja kelompok atau ruang diskusi. Hampir semua perpustakaan dilengkapi dengan fasilitas standar seperti lab komputer, printer dan plotter, dan juga scanner. Ada beberapa perpustakaan kampus yang juga meminjamkan berbagai perlengkapan atau peralatan lainnya bagi para mahasiwa atau staf akademik yang membutuhkan untuk keperluan tugas atau proyek akademik, seperti tab atau pad, mesin 3D-printing, peralatan mekanik dan elektrikal, hingga alat dan mesin jahit,”  terang Ibu Widy kepada Dila – tim intern Pustakalana. 

Namun, sama seperti yang dilakukan oleh Pustaklana dimasa pandemi, perpustakaan di tempat tinggal Ibu Widy juga mengadaptasi siklus peminjaman bukunya. Layanan peminjaman buku maupun berbagai perlengkapan lainnya selama masa pandemi ini sangat dibatasi atau bahkan ditiadakan di sana. 

Lalu, apa ya kira-kira program yang juga dapat diterapkan oleh perpustakaan-perpustakaan di Indonesia berkaca dari perpustakaan di Amerika Serikat? Ibu Widi menyampaikan “Salah satu bentuk layanan yang cukup membantu dan mungkin bisa diterapkan juga di perpustakaan-perpustakaan di Indonesia adalah “interlibrary loan” atau peminjaman lintas perpustakaan di mana kita bisa meminjam koleksi yang tersedia di perpustakaan lain melalui sistem perpustakaan kampus”. 

Dan ternyata, di kota tempat Ibu Widy tinggal, perpustakaan anak menyatu dengan perpustakaan kota yang merupakan bagian dari sistem County Library. Ibu Widy menuturkan, terdapat bagian khusus lainnya juga loh yang menyediakan buku untuk remaja dengan koleksi yang lengkap dan beragam. Tidak hanya itu, juga tersedia ruang baca khusus untuk anak dan remaja yang juga dilengkapi dengan beberapa komputer dan alat-alat bermain. 

Sama seperti Pustakalana, ternyata kegiatan-kegiatan seperti story telling juga dilakukan secara virtual loh. Tentu acara yang diadakan sama serunya ya dengan yang diselenggarakan oleh Pustakalana selama dalam masa pandemi ini. Dengan adanya setitik cerita bersama Ibu Widy, kita semua tentu mengharapkan adanya peningkatan pelayanan Perpustakaan di Indonesia, bukan hanya di kota besar, namun juga hingga keseluruh pelosok negeri. Dengan begitu, seluruh teman-teman Indonesia dapat membaca dan membuka jendela dengan buku-buku yang ada di perpustakaan.  

Terima kasih kesempatan dan ceritanya ya Bu Widy…!

====

Wawancara oleh: Fadhila Ulfa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s